Indonesia adalah salah satu negara tujuan negara-negara barat mengekpor sampah-sampahnya. Berita ini sempat viral di media elektronik dan juga media sosial dimana hal ini salah satunya adalah dampak akibat negara China yang mulai menghentikan import sampah dari negara-negara barat.

Dengan China memberlakukan peraturan mengenai pemberhentian penerimaan impor sampah dari negara barat, maka negara-negara barat pun kini mencari opsi negara lain yang bisa menerima ekspor sampah dari negara mereka. Dan salah satu negara Asia yang menjadi tujuannya itu adalah Indonesia.

Kini lahan yang ada di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi menjadi sorotan karena ternyata TPA Burangkeng ini sudah sejak lama menjadi tempat penimbunan sampah-sampah dari luar negeri.

Di lahan yang terletak di dekat tol Cimanggis – Cibitung tersebut, limbah – limbah itu bercampur dengan limbah- limbah anorganik dari pabrik-pabrik.

Berikut ini adalah sampah – sampah yang ada di TPA Burangkeng :

  1. Paling banyak sampah kemasan makanan

Kebanyakan sampah kemasan makanan yang ada yang TPA Burangkeng jarang yang ditemukan merek-merek sampah dalam negeri. Rata-rata kebanyakan kemasan dari luar negeri.

  1. Ternyata bukan di wilayah TPA

Setelah ditilik lagi, ternyata lokasi ini adalah bukan lokasi TPA. Karena sebetulnya, lokasi yang menjadi timbunan sampah-sampah tersebut, ternyata hanya sekedar berdekatan dengan lokasi TPA Burangkeng. Menurut tokoh masyarakat setempat, lokasi yang menjadi tempat pembuangan tersebut bukanlah area TPA Burangkeng.

  1. Sempat mencemari wilayah TPA, namun sudah berenti

Awalnya memang TPA Burangkeng lah yang menjadi sasaran penimbunan sampah tersebut. Dalam permohonan awalnya, disebutkan bahwa itu adalah sampah dari pabrik di sekitar area tersebut.

Namun setelah diketahui bahwa ternyata itu adalah sampah-sampah impor dari luar negeri, maka saat itu juga dilarang oleh kepala DLH Kabupaten Bekasi.

Nah itulah beberapa fakta yang perlu kamu ketahui yang ada di TPA Burangkeng, Bekasi. Sebagai negara yang masih belum sempurna dalam mengelola sampah dalam negerinya, diantaranya minimnya kesadaran membuang sampah ke dalam tong sampah fiber. Seharusnya memang kita belum bisa untuk menerima ekspor sampah dari negara-egara lain. Semoga saja kedepannya peraturan yang mengurusi ini bisa berjalan dengan baik .