Keindahan Wisata di Luwuk – RASA PENASARAN ITU TERBAYAR. BEGITU PESAWAT TOUCH DOWN DI BANDARA SYUKURAN AMINUDDIN AMIR YANG MUNGIL, SUASANA INDAH SUDAH MULAI TERASA.

Keindahan Wisata di Luwuk

Di sisi kanan lapangan udara mungil itu disuguhi pemandangan laut Sulawesi yang tenang. Meskipun agak repot menenteng 1 koper plus 1 ransel berat naik turun tangga menuju parkiran mobil. Menuju pusat kota sangat dekat. Hanya berjarak 3 km, dengan pemandangan full laut di sebelah kanan jalan raya provinsi itu. Deretan warung-warung di bibir pantai menjajakan jagung bakar aneka rasa dengan kelapa muda sebagai pelengkapnya.

Air Terjun Uwe Molino

Adit, teman kami yang menjadi pemandu selama di sana, pemuda asli Luwuk, namun dia kuliah di Bandung. Kami beruntung, karena kebetulan dia sedang pulang kampung, sehingga kami punya guide warga Luwuk tulen. Kami meluncur ke air terjun Uwe Malino. Ini salah satu obyek wisata tirta yang dimiliki kota berpenduduk sekitar 60 ribu jiwa ini. Jalan menuju air terjun itu cenderung menanjak dan berkelok-kelok ringan. Kita mesti berjalan sekitar 100 langkah menuju air terjun, ujar Adit. Saya selalu curiga dengan ucapan serupa itu, karena satuannya langkah, bukannya meter atau waktu.

Benar kan, rupanya kami harus naik turun tangga dari semen di jalan setapak sempit di antara rimbunan pohon-pohon besar. Sambil ngos-ngosan saya ngomel, Ini sih seratus langkah raksana, Dit. Namun air terjun di situ menenangkan hati. Suara air yang membentur batu besar di bawahnya, membuat kami enggan beranjak dan inginnya berlamalama di situ. Sangat beda dengan air terjun Salodik yang berjarak sekitar 30 km ke arah Palu, Sulawesi Tengah.  Berdasarkan informasi yang saya ambil dari blog yang membahas wisata alam indonesia, air terjun itu berada persis di pinggir jalan yang telah dibuatkan taman dan resort sederhana. Meski parkiran tidak begitu luas, banyak wisatawan lokal melewatkan liburan ke situ. Kita bisa menyewa saung-saung seharga Rp 15 ribu seharian, untuk tempat istirahat, makan atau berkumpul.

Udara di sini relatif lebih sejuk. Mungkin karena letaknya di dataran agak tinggi dan masih dikelilingi pohon-pohon berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Yang menarik, ketika kami bersantai di bukit Kasih Sayang atau bukit Inspirasi. Di titik itu, kita bisa melihat Kota Luwuk dari ketinggian. Deretan rumah-rumah penduduk di sekitar teluk, sungguh merupakan pemandangan yang mengasikkan. Jarak dari pusat kota pun terbilang dekat, hanya sekitar 15 menit. Di bukit ini, ada beberapa rumah makan yang benar-benar di bibir tebing untuk memanjakan tamunya yang ingin menikmati suasana. Jika boleh usul, obyek wisata ini ditangani lebih serius oleh pemerintah daerah baik di segi infrastruktur dan fasilitas serta promosinya. Misalnya dengan menambah jembatan orang sebagai penghubung antara kolam satu dengan yang lain, atau memperbaiki dan menambah toilet yang ada. Agar pengunjung makin nyaman dan jumlahnya makin banyak lagi.